Minggu, 01 November 2009

Antisipasi PARIPURNA Menghadapi BENCANA

Segala puji hanya Bagi Allah, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. Sungguh bila manusia menyadari akan keberadaan dirinya dimana dia pernah tinggal dan sekarang sedang dimana, dan kemudian mempercayai firman-firman Allah kemana mereka akan pergi, maka manusia akan segera sadar dari segala kelalaiannya.
Allah menyampaikan berita tentang asal usul manusia dan kemana manusia akan pergi berjalan, dengan sangat gamblang, dalam firmanNya yang artinya
Hai manusia, kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur); maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai pada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) diantara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah (QS. 22:5)
Untuk menguatkan kesadaran perasaan masing-masing manusia menghayati ayat tersebut adalah dengan rajin melakukan ibadah kepada Allah. Karena telah banyak bukti bahwa para ilmiawan cerdas-cerdaspun banyak yang tidak sampai kepada kesadaran batin hingga seperti yang disebutkan dalam firman Allah tersebut. Semakin cerdas bahkan semakin sombong, semakin angkuh dan semakin lupa daratan, lupa asal muasalnya dan sekaligus lupa tugas utama untuk apa hidupnya di dunia ini, serta lupa dengan akhir dari perjalanan hidupnya.
Kesibukan dengan tumpukan urusan dunia, tanpa tujuan ibadah kepada Allah, akan dapat memunculkan kelalaian jiwa. Jiwa yang lalai bila merasakan kejenuhan jiwa tidak diobati dengan kembali mengingat Allah, tapi cukup dihibur dengan secangkir kopi, sesaat ngerumpi, sesaat gurauan lawak, sesaat sendau gurau, dan nuansa-nuansa sejenis yang semuanya tidak sampai kepada ingat dan bersyukur kepada Allah.
Pada hari ini boleh-boleh saja manusia mengatakan bahwa gelombang gempa yang terjadi di sekitar kita adalah merupakan siklus-siklus tetap proses kegempaan, namun orang-orang yang “Ulil Albab”tentu akan menghadapinya dan menyelesaikannya dengan penyelesaian yang paripurna. Dan tidak ada penyelesaian yang paripurna itu kecuali dengan bimbingan Allah Tuhan semesta Alam. Dalam sebuah ayatnya Allah berfirman yang artinya
Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri. (QS. 27:87)
Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram daripada kejutan yang dahsyat pada hari itu. (QS. 27:89)

Dalam sebuah Hadist Rasulullah SAW menyampaikan
Abu Hurairah r.a. berkata: Bersabda Nabi SAW.: Ada tujuh macam orang yang bakal bernaung dibawah naungan Allah, pada hari tiada naungan kecuali naungan Allah. Yaitu Imam(pemimpin) yang adil. Dan pemuda yang rajin ibadat pada Allah. Dan orang yang hatinya selalu gandrung pada masjid. Dan dua orang yang saling berkasing sayang sayang karena Allah, baik waktu berkumpul atau berpisah. Dan orang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita bangsawan nan cantik, maka menolak dengan kata: saya takut kepada Allah. Dan orang yang sedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan orang yang berdzikir ingat pada Allah sendirian hingga mencucurkan air mata. (HSR. Bukhari, Muslim)
Allah berjanji kepada para kekasihnya, mereka akan mendapatkan ketenteraman dan kebahagiaan dalam keadaan yang bagaimanapun
ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 10:62)
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. (QS. 10:63)
Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS. 10:64)

Memang untuk menghadapi lingkungan yang dikepung dengan bencana manusia boleh-boleh saja membuat antisipasi. Misalnya antisipasi banjir, antisipasi gempa, antisipasi puting beliung, antisipasi kebakaran, dst. Namun dari ayat tersebut antisipasi yang paripurna adalah “IMAN dan AMAL SHOLIH”.Dengan antisipasi paripurna ini maka seluruh capaian akan terpenuhi, yaitu capaian dunia dan akherat.
Bila hari ini pemerintah membuat program-program yang sangat tertata rapi, bagaimana mencerdaskan masyarakat untuk mengantisipasi bencana dengan ilmu-ilmu yang canggih-canggih, sudahkah mereka sudah juga membekali masyarakat dengan antisipasi yang paripurna tersebut.
Sudahkah ada usuha-usaha untuk menghentikan segala penyebaran kemaksiyatan dengan sebaik-baiknya ?, sudahkan ada usaha-usaha penyempurnaan moral dan akhlaq umat manusia dengan amal-amal agama yang dicintai dan diterima oleh Allah ?. Sudahkah ada usaha-usaha untuk menyedarkan masyarakat untuk memegang teguh iman dan amal sholih?, Sudahkan ada usaha-usaha nyata menutup segala hal-hal yang menjadi sumber kerusakan moral umat manusia?, bila semua itu belum dilakukan, maka usaha-usaha dhohir akan menjadi sia-sia. Satu lubang ditutup maka lubang bahaya yang lain akan menganga!.
Bencana-bencana-bencana menimpa umat manusia, tidak ada lain cara menuntaskannya harus dengan bimbingan Allah Tuhan semesta Alam. Allah menyindir manusia dengan sesuatu sindiran yang sangat mengena agar manusia sadar
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (QS. 29:41)
Kapan kita mau sadar diri akan kelemahan kita?, kapan kita sadar diri dari lupa daratan kita ?, kapan kita sadar diri dari kesombongan kita?, semua penyakit jiwa dalam diri kita telah tumbuh menjamur disebabkan kita sibuk, hiruk pikuk di muka bumi hanya untuk bersenang-senang melupakan Allah, dan kebanyakan kita tidak rajin beribadah kepada Allah. Semoga bencana-bencana-bencana, menyadarkan kita semua. Wallahu’alam


 http://mta-online.com

Kamis, 29 Oktober 2009

Menyikapi Cap Teroris Atas Salafy - www.antiteroris.com

Bismillah...
Para pembaca sekalian, rahimahumullah...
Kejadian-kejadian aksi terorisme di negeri ini dalam beberapa waktu terakhir terus meningkat. Di sisi lain upaya aparat untuk memburu para teroris pelaku pengeboman tak berperikemanusiaan itu terus gencar.
Beberapa pelaku teror berhasil ditangkap. Sangat disayangkan, ternyata di antara mereka yang tertangkap sebelumnya adalah para pemuda muslimin yang dikenal baik di lingkungannya, memiliki semangat beragama yang tinggi, dan pembelaan terhadap Islam. Para orang tua yang mendengar anaknya tewas dalam aksi terorisme atau terciduk oleh aparat, kaget dan terpukul. Tentunya kita heran,
bagaimana paham terorisme bisa masuk menyusup ke generasi muda muslim? Apa benar terorisme merupakan bagian dari ajaran agama?
Lebih rumit lagi, ternyata pada sebagian teroris yang tertangkap atau masih buron, pada mereka ada penampilan syiar agama Islam, misalnya berjenggot, celana di atas mata kaki, baju gamis, istri bercadar, dan syiar ketaatan beragama lainnya.

Tak ayal lagi, sebagian orang menganggap bahwa itu adalah ciri-ciri teroris.
Parah lagi, mereka menganggap setiap orang yang berpenampilan dengan penampilan di atas, maka berarti identik dengan teroris atau orang yang sekelompok/segolongan dengan para teroris! Kondisi ini diperkeruh dengan komentar-komentar para tokoh tidak bertanggung jawab dan asal bicara, yang dilansir oleh media.
Perlu diketahui bahwa penampilan Islami seperti di atas sebenarnya merupakan cara penampilan yang dituntunkan dalam syariat dan dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, serta diamalkan oleh para sahabat dan para salafush shalih, serta para ulama Ahlus Sunnah yang mulia. Jadi, sebenarnya itu merupakan ciri-ciri seorang muslim yang berpegang teguh dengan agamanya.

Sepantasnya seorang muslim berpenampilan dengan penampilan seperti itu. Namun para teroris tersebut telah menodai ciri-ciri yang mulia ini, dengan mereka terkadang berpenampilan dengan penampilan tersebut. Sehingga sampai-sampai kaum muslimin sendiri tidak mau berpenampilan dengan penampilan Islami seperti di atas, karena beranggapan bahwa penampilan tersebut adalah penampilan teroris.

Nyata-nyata para teroris Khawarij tersebut telah membuat jelek Islam dari segala sisi! Padahal dalam kondisi-kondisi tertentu –dalam rangka menghilangkan jejak misalnya—terkadang mereka tak segan melepas segala atribut penampilan syiar sunnah dari dirinya!! Mencukur jenggotnya sekalipun akan sanggup mereka lakukan!! Penampilan luar semata tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai seseorang sebagai teroris. Jangan apriori terhadap penampilan sunnah dan ajaran
sunnah. Di sisi lain jangan pula terkecoh dengan penampilan tersebut.
Maka, kita perlu tahu apa dan bagaimana paham keagamaan para teroris pelaku peledakan bom Bali, JW.
Marriot, dll. berikut bahaya paham tersebut terhadap Islam dan umat Islam serta kehidupan manusia
.
Apa benar paham dan praktek mereka selama ini ada landasannya dalam Islam? Apa kaitannya dengan jihad?

Benarkah mereka sedang berjuang membela Islam?
Apa semua orang yang berjenggot, berjubah, isterinya bercadar, … dst adalah teroris, atau identik dengan teroris, atau sealiran dengan kelompok teroris?


Penulis: Redaksi Salafy.or.id