Jumat, 17 September 2010

Perjalanan Dieng Plateu Area

Kawah Sikidang
Dieng ibarat perempuan cantik yang selama ini menggoda saya. Kabutnya adalah bedak yang membuat pikiran saya melayang-layang ingin segera mencecapnya. Dinginnya adalah keakuan yang ingin saya taklukan….hehehe
Kami melewati jalur Boja – Singorojo – Bejen , melewati hutan karet di daerah Sukomangkli terus melewati daerah Candiroto – Ngadirojo terus naik keatas menyusuri jalan Jumprit nah mulai dari Jumprit pemandangan alam yang indah mulai tersuguhkan… dan jalanan naik terjal pun harus di lewati ..hehehe namun gak bisa tancap gas .. harus pelan2 .. karena tanjakan tinggi dan penuh tikungan ..
Telaga Warna... " mendung N gerimis
Kebetulan ini adalah liburan hari raya idul fitri 1431 H, kesempatan ini tak saya sia-siakan untuk menyiapkan perjalanan ke Dieng. Setelah perjalanan 2 jam dari Boja sampailahn kami di perkebunan teh Tambi , sebuah perkebunan teh sebelum memasuki kawasan dieng. Kami ber empat sejenak istirahat setelah perjalanan selama dua jam
Road to Dieng pun segera dilajutkan, perjalanan menaikki jalanan yang terjal berliku kembali dilaksanakan, jalan ntuk sampe ke dataran tinggi dieng tu naek cukup curam n berkelok2 Dalam perjalanan banyak hal menarik terjadi.. hehe ., tak lupa ceprat cepret ambil gambar buat dokumen pribadi …. :d. Sesampe di daerah tieng ada gardu pandang tempat istirahat sejenak, kami istirahat disana sambil menikmati pemandangan alam …
istirahat sejenak di Gardu Pandang Tieng
Setelah istirahat sejenak kurang lebih 30 menit kami lanjutkan menuju ke puncak dieng yah .. sekitar 7Km dari Gardu Pandang Tieng.., sesampai disana kami harus merogoh kocek Rp.40.000 untuk membeli tiket untuk dua orang.., wah itu tergolong murah karena untuk 4 lokasi . Telaga Warna , Candi Arjuna, Kawah Sikidang dan Dieng Plateau Theater. Heemm .. jangan lupa deh klo nyampe sana untuk sekedar minum kopi purwaceng …hahaha .., untuk ngangetin badan aja..,
Jam menunjukan pukul 11. siang .., kabut mulai turun menyapa tubuh hawa dingin semakin terasa .. benar benar mantabzzzz perjalanan ini hari .., bersama anak-anak .
See you…. “” sampai jumpa dengan perjalanan2 yang laen …:d

Kamis, 09 September 2010

Ketenangan Hati

Sudan lama Abu nawas tidak dipanggil ke istana untuk menghadap Baginda.
Abunawas juga sudah lama tidak muncul di kedai teh. Kawan-kawan Abunawas
banyak yang merasa kurang bergairah tanpa kehadiran Abu nawas. Tentu saja
keadaan kedai tak semarak karena Abu nawas si pemicu tawa tidak ada.
Suatu hari ada seorang laki-laki setengah baya ke kedai teh menanyakan Abu
nawas. la mengeluh bahwa ia tidak menemukan jalan keluar dari rnasalah pelik
yang dihadapi.

Salah seorang teman Abunawas ingin mencoba menolong.
"Cobalah utarakan kesulitanmu kepadaku barang-kali aku bisa membantu." kata
kawan Abunawas.

"Baiklah. Aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sedangkan aku tinggal
bersama istri dan kedelapan anak-anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu
sempit sehingga kami tidak merasa bahagia." kata orang itu membeberkan
kesulitannya.
Kawan Abunawas tidak mampu memberikan jalan keluar, juga yang lainnya.
Sehingga mereka menyarankan agar orang itu pergi menemui Abunawas di
rumahnya saja.

Orang itu pun pergi ke rumah Abunawas. Dan kebetulan Abu Nawas sedang
mengaji. Setelah mengutarakan kesulitan yang sedang dialami, Abunawas
bertanya kepada orang itu.
"Punyakah engkau seekor domba?"
"Tidak tetapi aku mampu membelinya." jawab orang itu.
"Kalau begitu belilah seekor dan tempatkan domba itu di dalam rumahmu."
Abunawas menyarankan.
Orang itu tidak membantah. la langsung membeli seekor domba seperti yang
disarankan Abunawas.

Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas.
"Wahai Abunawas, aku telah melaksanakan saranmu, tetapi rumahku
bertambah sesak. Aku dan keluargaku merasa segala sesuatu menjadi lebih
buruk dibandingkan sebelum tinggal bersama domba." kata orang itu mengeluh.
"Kalau begitu belilah lagi beberapa ekor unggas dan tempatkan juga mereka di
dalam rumahmu:" kata Abunawas.

Orang itu tidak membantah. la langsung membeli beberapa ekor unggas yang
kemudian dimasukkan ke dalam rumahnya. Beberapa hari kemudian orang itu
datang lagi ke rumah Abu Nawas.

"Wahai Abu Nawas,aku telah melaksanakan saran-saranmu dengan menambah
penghuni rumahku dengan beberapa ekor unggas. Namun begitu aku dan
keluargaku semakin tidak betah tinggal di rumah yang makin banyak
perighuninya. Kami bertambah merasa tersiksa." kata orang itu dengan wajah
yang semakin muram.

"Kalau begitu belilah seekor anak unta dan peliharalah di dalam rumahmu."kata
Abu Nawas menyarankan
Orang itu tidak membantah. la langsung ke pasar hewan membeli seekor anak
unta untuk dipelihara di dalam rumahnya.
Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas. la berkata,
"Wahai Abu Nawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekarang
hampir seperti neraka. Semuanya berubah menjadi lebih mengerikan dari pada
hari-hari sebelumnya. Wahai Abu Nawas, kami sudah tidak tahan tinggal
serumah dengan binatang-binatang itu." kata orang itu putus asa.

"Baiklah, kalau kalian sudah merasa tidak tahan maka juallah anak unta itu."
kata Abu Nawas.
Orang itu tidak membantah. la langsung menjual anak unta yang baru
dibelinya.
Beberapa hari kemudian Abu Nawas pergi ke rumah orang itu

"Bagaimana keadaan kalian sekarang?" Abu Nawas bertanya.
"Keadaannya sekarang lebih baik karena anak unta itu sudah tidak lagi tinggal
disini." kata orang itu tersenyum. "Baiklah, kalau begitu sekarang juallah
unggas-unggasmu." kata Abu Nawas.
Orang itu tidak membantah. la langsung menjual unggas-unggasnya.
Beberapa hari kemudian Abu Nawas mengunjungi orang itu.

"Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang ?" Abu Nawas bertanya.
"Keadaan sekarang lebih menyenangkan karena unggas-unggas itu sudah tidak
tinggal bersama kami." kata orang itu dengan wajah ceria.
"Baiklah kalau begitu sekarang juallah domba itu." kata Abu Nawas.
Orang itu tidak membantah. Dengan senang hati ia langsung menjual
dombanya.

Beberapa hari kemudian Abu Nawas bertamu ke rumah orang itu. la bertanya,
"Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang ?" "Kami merasakan rumah kami
bertambah luas karena binatang-binatang itu sudah tidak lagi tinggal bersama
kami. Dan kami sekarang merasa lebih berbahagia daripada dulu. Kami
mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepadamu hai Abu Nawas." kata
orang itu dengan wajah berseri-seri.

"Sebenarnya batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiranmu. Kalau
engkau selalu bersyukur atas nikmat dari Tuhan maka Tuhan akan mencabut
kesempitan dalam hati dan pikiranmu." kata Abu Nawas menjelaskan.
Dan sebelum Abu Nawas pulang, ia bertanya kepada orang itu,

"Apakah engkau sering berdoa ?"
"Ya." jawab orang itu.

"Ketahuilah bahwa doa seorang hamba tidak mesti diterima oleh Allah karena
manakala Allah membuka pintu pemahaman kepada engkau ketika Dia tidak
memberi engkau, maka ketiadaan pemberian itu merupakan pemberian yang
sebenarnya."

pesan~~
Sang pencipta lebih mengetahui apa yang kita butuhkan ketimbang apa yang kita inginkan.., Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan dengan rejeki dan nikmat yang kita terima.., dan apa yang kita terima saat ini adalah pilihan-Nya , tinggal bagaimana cara kita mensyukurinya. semakin kita bersyukur dengan nikmat-Nya maka akan ditambah dengan nikmat yang laen, namun bila kita ingkar maka adablah yang akan menimpa kita.
Jangan pandang rumput tetangga itu lebih hijau..,karena mungkin rumput yang kita miliki sesunguhnya lebih baek.. :d