Senin, 10 Januari 2011

jangan bersedih

Jangan bersedih, karena Anda telah melalui kesedihan itu kemarin
dan ia tidak memberi manfaat apapun. Ketika anak Anda gagal dalam ujian
dan Anda bersedih karenanya, apakah kemudian anak Anda lulus karena
kesedihan itu? Saat bapak Anda meninggal dan Anda bersedih, apakah ia
akan hidup kembali? Manakala Anda merugi dalam suatu bisnis dan
kemudian Anda bersedih, apakah kemudian kerugian itu berubah menjadi
keuntungan?

Jangan bersedih, sebab bila Anda bersedih gara-gara satu musibah,
maka musibah yang satu itu akan menjadi berlipat ganda. Ketika Anda
bersedih karena kemiskinan atau kesengsaraan yang Anda alami, bukankah
kesedihan itu hanya menambah kesusahan Anda saja? Saat Anda bersedih
karena cercaan musuh-musuh Anda, pastilah kesedihan itu hanya akan
menguntungkan dan menambah semangat mereka untuk menyerang Anda.
Atau, ketika Anda mencemaskan terjadinya sesuatu yang tidak Anda sukai,
ia akan mudah terjadi pada Anda.

Jangan bersedih, karena kesedihan itu akan membuat rumah yang luas,
isteri yang cantik, harta yang melimpah, kedudukan yang tinggi, dan anakanak
yang cerdas tidak ada gunanya sedikit pun.

Jangan bersedih, sebab kesedihan hanya akan membuat air yang segar
terasa pahit, dan sekuntum bunga mawar yang indah tampak seperti
sebongkok labu, taman yang rimbun tampak seperti gurun pasir yang gersang,
dan kehidupan dunia menjadi penjara yang pengap.
Jangan bersedih, karena Anda masih memiliki dua mata, dua telinga,
dua bibir, dua tangan dan dua kaki, lidah dan hati. Anda masih memiliki
kedamaian, keamanan dan kesehatan.
{Maka, nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan.}
(QS. Ar-Rahman: 13)

Elia Abu Madhi berkata:
Orang berkata, "Langit selalu berduka dan mendung."
Tapi aku berkata, "Tersenyumlah, cukuplah duka cita di langit sana."
Orang berkata, "Masa muda telah berlalu dariku."
Tapi aku berkata, "Tersenyumlah, bersedih menyesali masa muda tak
kan pernah mengembalikannya"
Orang berkata, "Langitku yang ada di dalam jiwa telah membuatku
merana dan berduka.
Janji-janji telah mengkhianatiku ketika kalbu telah menguasainya.
Bagaimana mungkin jiwaku sangggup mengembangkan senyum
manisnya
Maka akupun berkata,"Tersenyum dan berdendanglah,
kala kau membandingkan semua umurmu kan habis untuk merasakan
sakitnya.
Orang berkata, "Perdagangan selalu penuh intrik dan penipuan,
ia laksana musafir yang akan mati karena terserang rasa haus."
Tapi aku berkata, "Tetaplah tersenyum, karena engkau akan
mendapatkan penangkal dahagamu.
Cukuplah engkau tersenyum, karena mungkin hausmu akan sembuh
dengan sendirinya.
Maka mengapa kau harus bersedih dengan dosa dan kesusahan orang
lain,
apalagi sampai engkau seolah-olah yang melakukan dosa dan
kesalahan itu?

Orang berkata, "Sekian hari raya telah tampak tanda-tandanya
seakan memerintahkanku membeli pakaian dan boneka-boneka.
Sedangkan aku punya kewajiban bagi teman-teman dan saudara,
namun telapak tanganku tak memegang walau hanya satu dirham
adanya
Ku katakan: Tersenyumlah, cukuplah bagi dirimu karena Anda masih
hidup, dan engkau tidak kehilangan saudara-saudara dan kerabatyang
kau cintai.
Orang berkata, " Malam memberiku minuman 'alqamah
tersenyumlah, walaupun kau makan buah 'alqamah
Mungkin saja orang lain yang melihatmu berdendang
akan membuang semua kesedihan. Berdendanglah
Apa kau kira dengan cemberut akan memperoleh dirham
atau kau merugi karena menampakkan wajah berseri?
Saudaraku, tak membahayakan bibirmu jika engkau mencium
juga tak membahayakan jika wajahmu tampak indah berseri
Tertawalah, sebab meteor-meteor langitjuga tertawa
mendung tertawa, karenanya kami mencintai bintang-bintang
Orang berkata, "Wajah berseri tidak membuat dunia bahagia
yang datang ke dunia dan pergi dengan gumpalan amarah.
Ku katakan, "Tersenyumlah, selama antara kau dan kematian
ada jarak sejengkal, setelah itu engkau tidak akan pernah tersenyum."

Jangan bersedih, karena Anda masih memiliki agama yang Anda yakini,
rumah yang Anda diami, nasi yang Anda makan, air yang Anda minum,
pakaian yang Anda pakai, dan isteri tempat Anda berbagi rasa. Mengapa
harus bersedih?

la tahzan hal 61 - 62

0 komentar:

Poskan Komentar