Senin, 22 Agustus 2011

kebaikan itu abadi

Suatu petang pada Ramadhan kemarin aku tercekat oleh suatu kejadian.
Sehabis maghrib, aku keluar rumah
untuk menjemput anak dan suamiku di rumah ibuku.
Di tengah jalan, aku melihat sepasang kakek nenek sedang duduk beristirahat di pinggir jalan, dalam naungan pohon angsana. Si nenek memapah dan membantu si kakek untuk berdiri, kelihatannya mereka hendak meneruskan perjalanan.
Aku bimbang..hendak kemana mereka sebenarnya.
Lima ratus meter aku berjalan, kubalikkan motorku 180derajat. Mereka sudah tidak ada. Ku telusuri lagi jalan yang aku lewati tadi. Ah, itu mereka, sedang berjalan tertatih-tatih. Ternyata si kakek buta, dia berjalan dengan tongkat di tangan dan dituntun oleh si nenek.
Kutepikan motor, dengan sedikit berdebar, aku bertanya :
"Mbah, badhe tindak pundi?"
"Ajeng wangsul niki..", jawab nenek tua itu.
"Dalemipun pundi mbah?" aku bertanya kembali.
"Mriku kok, namung caket pasar Nggladak", sahutnya.
"Nitih becak mawon nggih, mbah, niku bapake kadosipun sampun sayah. Mangkih kula ingkang bayar. Nggih mbah, nggih".
Aku beranjak hendak memanggil abang becak yang mangkal di dekat belokan. Namun jawaban tak disangka meluncur dari mulut keriput mereka.
"Mboten sah, matur nuwun sanget. Kula tak mlampah kemawon wong sampun biasa, namung caket riku kok..Matur nuwun.."
Mereka berjalan perlahan, meninggalkan aku yang masih berdiri dengan tenggorokan tercekat.
Butir-butir hangat mengalir perlahan dari kedua mataku. Tubuhku serasa tak bertulang, lemas dan gemetar.
Ya Allah, kuatkan mereka, cukupkan kehidupan mereka..hanya doa dalam hati yang bisa kubisikkan. Hatiku bergetar oleh ketegaran mereka dalam menghadapi hidup. Apapun kesusahan yg mereka hadapi, aku menangkap ketenangan di mata nenek itu.
Ya Allah, betapa kami ini termasuk manusia-manusia dzalim yang seringkali tidak tau berterima kasih dan bersyukur kepada-Mu.
Dalam kehidupan yang kami miliki sekarang, keluh kesah senantiasa menemani. Rasa kurang selalu melingkupi.
Ya Allah, berikan berkah-Mu, kepada orang-orang yang selalu menjalani kehidupan mereka dengan tegar, dengan menjaga penuh kehormatan diri mereka.
Fabi'ayi 'alaa-i rabbikumaa tukazd zdibaan...
Aku melanjutkan perjalanku masih dengan sisa-sisa airmata yang perlahan mengering oleh tiupan angin malam..
"Barangsiapa memiliki kelebihan bekal, maka hendaknya ia datang
dengan bekal itu kepada orang yang tidak memilikinya. Dan barangsiapa memiliki
kelebihan kendaraan, maka hendaklah dia datang kepada orang yang tidak memiliki
kendaraan."

Orang yang senang melakukan kebajikan, tak akan pernah menyesal
meski sangat banyak kebajikan yang telah dikerjakannya.

Kebaikan itu lebih abadi, walaupun itu dilakukan sekali........

1 komentar:

kahutindo_semarang mengatakan...

hemm... copy paste ... ceritane menyentuh seh.... tq ya... :d :)

Poskan Komentar