Sabtu, 17 September 2011

AYAH PERAIH PIALA... "

Saya selalu terharu jika mendapati seorang anak yang dengan yakin ingin menjadi seperti ayahnya, kelak, jika mereka dewasa. Di tengah serbuan begitu banyak tokoh super hero yg tampak sangat hebat, kehadiran sosok ayah yang menginspirasi jelas sebuah prestasi yang layak diacungi jempol. Apalagi pengakuan itu datang dari pihak yang berinteraksi langsung, kemudian nyata-nyata mendapatkan manfaatnya.
Selain keikhlasan menjalani peran, keteladanan yang kuat juga memberi andil yang tidak sedikit. Bukan abai akan kewajiban atau sibuk menjejalkan berbagai teori kosong, sosok ayah menjadi nyata, menginjak bumi, dekat dengan kehidupan sehari-hari, hingga mengisi hati dan jiwa anak-anak akan berbagai nilai positif dalam hidup. Begitu berpengaruh.

Padahal, tentu tidak mudah membuat anak-anak memiliki cita-cita menjadi seperti ayah mereka. Ibarat bercermin, apa yang dipantulkan oleh kepribadian ayah sangat memuaskan anak-anak itu, sehingga mereka seperti melihat bayangan diri sendiri di masa depan. Mencukupkan diri dari menginginkan orang lain, meski mereka tahu, karena kebanggaan akan ayah mereka yang sangat kuat. Bukankah yang demikian ini sangat mengagumkan?
Meski memang, orang tua adalah pihak pertama, yang dikenali anak-anak dalam proses pendidikan mereka, jauh sebelum mereka mengenal orang-orang lain. Sehingga setiap orang tua berpeluang besar menjadi orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan anak-anak, karena merekalah yang menjadikan anak-anak itu sebagai Yahudi, Nasrani, Majusi, atau tetap dalam fitrah keislaman. Tapi faktanya, banyak yang tidak menggunakan kesempatan ini dengan baik. Alih-alih mengerti akan tanggung jawab mereka sebagai orang tua, anak-anak yang terlantar, terutama secara psikologis, sangat bejibun jumlahnya.

Para orang tua, terutama ayah, adalah figur penjaga fitrah Allah pada diri anak-anak itu, sehingga mereka tumbuh dalam semangat kuat menemukan identitas asli mereka, menjadi hamba Allah. Karena anak diciptakan di atas fitrah itu, sehingga para orang tua berkewajiban menjaganya dari penyimpangan. Itulah hak anak dari orang tua, dan itu harus ditunaikan. Dan tanggung jawab ini, kelak, akan dipertanggung jawabkan. Maka para orang tua, terutama ayah, adalah pemeran utama bagi semua proses itu. Memaknai peran sebagai ayah dan ibu, yang bukan sekedar menyediakan kebutuhan lahiriyah belaka, namun juga kebutuhan batiniyah. Kebutuhan asasi sebagai upaya pemenuhan pendidikan menjadi manusia seutuhnya.
Karena anak-anak adalah ladang persemaian, orang tua serupa petani yang merawat tanamannya agar tumbuh dengan baik dan membuahkan hasil yang membanggakan. Di mana kesuburan tanamannya tidak akan terlepas dari upaya pembersihan hama dan gulma, juga tangan-tangan jahil yang ingin mencabut sebelum masa panen tiba. Selain itu, tentu saja pemupukan, pengairan, dan semua bentuk perawatan yang lain.
Sehingga pengabaian kebutuhan pendidikan adalah sebuah pengkhianatan peran. Karena anak-anak harus belajar tantang hidup, nilai, tujuan, hingga standar moral yang jelas, maka para ayah harus berupaya terus menerus tanpa kenal lelah untuk memelihara fitrah mereka. Membiasakan dalam ketaatan, mengajari kebaikan, juga menghindarkan dari berbagai kotoran dosa dan maksiat.
Keshalihan anak adalah keadaan khas yang unik dan membutuhkan proses dan metode yang unik pula. Ia berbeda secara keseluruhannya dengan metode pendidikan anak yang lain, yang tidak berdimensi akhirat. Sehingga merujuk kepada ajaran Rasulullah dalam mendidik mereka sangat diniscayakan. Selain juga kesiapan untuk menjadi teladan bagi mereka dalam meyakini dan mengaplikasikan dalam kehidupan nyata. Dan jika ditambah dengan keikhlasan, kejujuran, dan keadilan, peran ini akan menemukan jalannya yang unik itu.

Maka, anak-anak yang terjaga fitrahnya, akan memiliki konsep diri yang jelas, sejelas arah hidup yang hendak dituju. Buah yang tampak nyata adalah bakti yang menentramkan jiwa, penyejuk hati yang terlihat taat kepada Allah dan bersiap menjalani peran mereka sendiri sebagai hamba Allah. Dan jika mereka menemukan kesamaan identitas ini pada para ayah mereka, bukankah tidak perlu jauh-jauh mencari figur teladan itu?
Merekalah para ayah yang pantas mendapat piala. Dan inilah keberhasilan sesungguhnya di dalam hidup ini. Hal yang jauh lebih bernilai daripada tumpukan materi, yang pencapaiannya acapkali menggeser orientasi hidup, yang sejatinya akan usang bersama waktu, untuk kemudian berpindah ke tempat sampah. Sedang anak shalih akan tetap melantunkan doa-doanya. Mengalirkan pahala, jauh, hingga hanya Allah yang tahu sampai kapan semuanya berlangsung.
Sungguh, saya cemburu kepada para ayah itu! Dan saya sangat ingin menjadi bagian dari mereka.

Ayah adalah figur penjaga fitrah Allah pada diri anak-anak itu, sehingga mereka tumbuh dalam semangat kuat menemukan identitas asli mereka, menjadi hamba Allah Swt
"bisakah kita menjadi sosok ayah yang menjadi idola , teladan.. bagi anak anak kita,

0 komentar:

Poskan Komentar