Kamis, 10 Desember 2009

Lakon Hidup Penyadap Karet


Perkebunan Karet Kalimas
PAGI-pagi, belasan orang menyusuri kebun karet di Jatibarang (Palapa) Mijen. Sepatu boot mereka dijadikan alas agar tak terganggu ular di rerumputan. Pisau, senter, ceneng (mirip mangkok—Red), juga tong dalam pikulan menjadi peranti yang wajib mereka bawa untuk bekerja.

Pekerjaan yang dimulai pada 1980-an hingga kini masih dilakoni Jarwo (54). Senter yang pasang di atas kepalanya merupakan upaya agar batang pohon yang ditoreh pisaunya bisa kelihatan. Satu per satu, batang kayu karet disadap dari bawah ke atas untuk memenuhi 250 cenengnya.
Gerakannya masih lincah untuk menaiki anak tangga hingga mencapai ketinggian 5 meter. Sementara istrinya Suparni (44) hanya menyadap bagian bawah pohon. Kakinya yang sakit tertabrak mobil membuatnya tak bisa bebas bekerja seperti dulu.

Pukul 4:00, Jarwo sampai lokasi, setengah jam lebih awal dari teman-temannya. Meski begitu, dia bukan termasuk orang yang ngaya. Selain gaji bulanan, dia mendapatkan Rp 250 dari tiap kilogram lateks yang didapatnya per hari. Sekilo lateks dihargai Rp 2.000.

Joko (31), penyadap lainnya mengungkapkan, untuk mengambil mangkok berisi lateks hanya perlu satu jam. Di daerah tempatnya bermukim, Trisobo, Boja sedang masa tanam karet. Istrinya pun turut menanamnya. Pria yang baru setahun nderes (menyadap karet—Red) getah karet mengatakan, pekerjaannya tak dapat ditarget mengingat sudah banyak pohon yang rusak.

Dikatakannya, jumlah getah yang dihasilkan tiap pohon tidaklah sama, tergantung jenis pohon dan umurnya. Semakin tua pohon, makin seret menghasilkan getahnya. Untuk itu, mereka terkadang harus menaburkan obat agar getah bisa keluar lebih banyak. Namun jika terlalu sering, pohon bisa tak bergetah karena sering diperas.
Terkendala Hujan Karena memanjat adalah pekerjaan keseharian mereka, para penyadap karet dituntut lebih berhati-hati di musim hujan seperti sekarang. Sungguh berbahaya bagi mereka kalau sampai jatuh dari pohon, meskipun jika itu terjadi segala risiko ditanggung perusahaan.

Di musim ini, mereka akan sering menghentikan pekerjaan. Jika lewat pukul 9:00 hujan tak kunjung reda, mereka tak berangkat kerja. Namun, jika sebelum jam itu sudah reda, mereka tetap menyadap getah meski hasilnya kurang bagus.

Hasil kerja mereka pun akan sia-sia jika terlanjur nderes hujan baru tiba. Sebab, getah akan meluber bercampur air. “Kalau hujan, kami libur. Itu sudah faktor alam jadi tak bisa dicegah,” tuturnya.

Jika saat kemarau mendapatkan 15 kg lateks, musim hujan mereka bisa mendapatkan lebih banyak. Namun, kualitasnya kalah bagus dibanding ketika kemarau. Hari itu, Joko mendapatkan 26 kg sementara Jarwo memanen 30 kg.
http://m.suaramerdeka.com

2 komentar:

kahutindo_semarang mengatakan...

...apapun itu perkebunan di wilayah mijen adalah daerah resapan, kalo terus di tebang seperti foto di atas jelas akan menjadikan dampak lingkungan yang kurang baik , n so pasti bencana mengancam apalagi klo ditebang terus di bangun Property.. huh. mari para pemerhati lingkungan selamat kan alam ini...

Anonim mengatakan...

I'd like to thank you for the efforts you've put in penning this website.
I'm hoping to see the same high-grade blog posts from you
later on as well. In fact, your creative writing abilities has encouraged
me to get my own blog now ;)

Here is my web-site :: http://hekiki.com/index.php?document_srl=16042

Poskan Komentar